Translate

Selasa, 23 April 2013

Maeda Atsuko The 15th

Gadis berambut strawberry itu menyantap sarapannya dengan lahap. Ia tersenyum sembari menatap ibunya. Sang ibu membalas senyuman manis itu dan memasangkan sebuah bandana di kepala putrinya. Rambut panjang anaknya tergerai sangat cantik.

"Kemarin teman-temanku bercerita tentang Acchan ke-14. Ia seorang idola 00 yang menghilang di sebuah perang. Sebagian mengatakan ia terbunuh oleh DES. Apakah itu benar?" gadis itu bertanya pada ibunya.

"Apa yang kaupikirkan tentang itu?"

"Hilangnya Acchan sangat misterius. Mereka bilang, selama bertahun-tahun ini, tidak ada lagi yang menjadi penerus Acchan setelah Acchan ke-14."

Sang ibu tertegun mendengar ucapan anaknya. "Kau begitu tertarik?"

"Un! Apakah Acchan begitu istimewa? Apakah sinarnya lebih terang dari center nova?"

"Entah," ibunya mengangkat bahu.

"Katanya, semua sudah lupa bagaimana wajahnya Acchan. Bukankah DES terdengar begitu kejam? Dia membunuh Acchan."

"Siapa yang tahu," ibu itu tersenyum. "Nah, saatnya berangkat sekolah!"

"Iya, bu! Itekimasu!"

Ogawa Nagino adalah nama lengkap gadis ini. Ia seorang gadis SMP biasa yang ingin menjadi seorang idola. Ia bukan gadis yang menonjol dan percaya diri. Tapi pasti, ada keistimewaan dalam dirinya.

"Ohayou, Nagi-chan!"

"Ohayou, Chie-chan," Nagino membalas sapaan sahabatnya, Chiemi.

"Kau sudah dengar? AKB melekukan audisi 99th Generation! Pencarian kenkyusei!"

"Tidak. Tahu darimana?"

"Dari kakakku. Kau lupa kalau dia adalah Kitahara Rie ke-16?"

"Pastinya. Kakakmu sudah jadi successor, sih!"

Chiemi berlonjak senang. "Dia menyarankan agar kau dan aku ikut audisi."

"Entahlah ... aku harus minta izin ibuku dulu. Kautahu, kami hanya tinggal berdua semenjak ayahku mendapat tugas di Sagittariustar?"

"Hmm ... ya. Aku heran kenapa ibumu memilih tinggal di Lancastar. Padahal nenek dan kakekmu di Akibastar, kan?"

"Dulu waktu kecil, ibu memang tinggal di Lancastar. Kemudian pindah ke Akibastar. Lalu kakek dan nenek menyusul ke Akibastar. Terus setelah ibuku menikah dengan ayahku, mereka pindah ke Lancastar."

"Panjang lebar sekali."

"Hehehe ...."

"Ah, ya, Nagi! Pulang sekolah ini kita mengunjungi sekolah si kembar, oke?"

"Baiklah."

Chiemi tesenyum dan duduk di bangkunya, di sebelah Nagino. Nagino mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Sebenarnya itu tidak diperlukan. Toh, sekolah mereka ini mana pernah belajar. Hanya membahas soal AKB atau DES. Murid-murid disini juga rata-rata adalah anak geng yang suka tawuran. Jangan heran kalau pagi-pagi, ada saja yang wajahnya penuh perban.

"Ohayo, Nagino, Chiemi. Sedang membahas soal AKB?"

Nagino dan Chiemi menatap seorang gadis yang berdiri dengan angkuh di depan mereka. Nakamura Yumi, seorang pesolek di kelas dan salah satu anggota geng di kelas mereka.

"Berminat ikut audisi rupanya. Baguslah, saingan berkurang," ucapnya angkuh.

"Maksudmu?" tanya Chiemi.

"Cih. Aku akan ikut audisi itu. Dan kalian berdua juga ikut, bukan? Artinya sainganku berkurang. Untuk orang seperti kalian ... mana mungkin bisa melawanku."

Nagino dan Chiemi hanya diam. Lebih baik tidak perlu diladeni.

"Kalau begitu aku pergi. Permisi."




~To Ne Next Stage~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar